LOMBOK TENGAH, iNews.id – Tim Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Bali bersama Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Lombok Tengah mengolah tempat kejadian perkara (TKP) kebakaran hebat yang menghanguskan ratusan rumah di kawasan destinasi wisata Kampung Adat Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), Senin (24/8/2026). Penyelidikan ini melibatkan guna mengungkap pemicu pasti musibah tersebut.
Polisi menyisir dan melakukan pemeriksaan secara menyeluruh pada salah satu rumah warga yang diduga kuat menjadi titik awal kemunculan kobaran api. Dari lokasi tersebut, api dengan cepat membesar dan merambat hingga menghanguskan ratusan rumah adat berbahan kayu, bambu, serta beratap ilalang.
Selain menyisir area reruntuhan bangunan, tim penyidik turut mengumpulkan keterangan dari sejumlah saksi kunci di lokasi kejadian.
"Kami menyisir lokasi untuk melakukan pemeriksaan TKP sekaligus mengumpulkan keterangan dari sejumlah saksi, termasuk pemilik rumah yang menjadi titik awal munculnya api," ujar Kasat Reskrim Polres Lombok Tengah, AKP Punguan Hutahean, Senin (24/8/2026).
Sejumlah sampel material sisa kebakaran dari titik awal api telah diamankan oleh Tim Labfor Polda Bali untuk selanjutnya menjalani pengujian ilmiah di laboratorium forensik.
Pihak kepolisian menegaskan bahwa hasil pemeriksaan laboratorium forensik nantinya akan menjadi dasar resmi bagi jajaran kepolisian untuk melengkapi berkas penyelidikan serta memastikan ada tidaknya unsur kelalaian maupun kesengajaan dalam musibah kebakaran cagar budaya tersebut.
Sebelumnya, kebakaran hebat melanda kawasan destinasi wisata ikonik Desa Adat Sade di Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Kobaran api dengan cepat membesar dan melalap ratusan rumah adat khas Suku Sasak di kawasan tersebut.
Tidak ada korban jiwa maupun luka dalam musibah kebakaran tersebut. Kendati demikian, kerugian materiil diperkirakan mencapai miliaran rupiah mengingat bernilainya cagar budaya dan barang-barang milik warga yang tidak sempat diselamatkan.
Peristiwa yang mengejutkan warga dan wisatawan itu terjadi pada Sabtu (22/8/2016) malam hari sekitar pukul 22.00 WITA.
Berdasarkan keterangan warga setempat, titik api pertama kali terlihat muncul dari area tengah pemukiman padat rumah adat. Struktur bangunan yang mayoritas terbuat dari kayu, bambu, serta atap ilalang kering membuat kobaran api merambat begitu cepat ke bangunan di sekitarnya.
"Api mulai terlihat dari tengah-tengah permukiman rumah adat sekitar pukul 22.00 WITA, kemudian dengan cepat merambat ke rumah-rumah lainnya," ujar Anton, salah seorang warga sekitar di lokasi kejadian.
Editor : Kastolani Marzuki
Artikel Terkait