Kisah Kekejaman Belanda Habisi Keturunan Untung Surapati yang Dikenal Sakti

Sindonews, Solichan Arif · Selasa, 22 Juni 2021 - 12:05:00 WIB
Kisah Kekejaman Belanda Habisi Keturunan Untung Surapati yang Dikenal Sakti
Ilustrasi Untung Suropati memimpin pasukan (Foto: Istimewa)

JAKARTA, iNews.id -  Untung Surapati menjadi ancaman bagi kolonial Belanda saat zaman penjajahan dulu. Tentara Belanda saat itu pun mengerahkan kekuatan untuk menghabisi seluruh keturunan Untung Surapati beserta pengikutnya. 

Sedikitnya 57-an orang ditangkap. Mereka dibawa ke Semarang, untuk dipenjara. Dalam operasi militer besar-besaran itu, tidak sedikit keturunan Surapati yang tewas. Namun ada juga berhasil lolos.

Surapati memiliki banyak keturunan. Terutama di wilayah Jawa Timur. Mereka tersebar di daerah Malang, Lumajang, dan sekitarnya.

"Mereka terus melancarkan perlawanan hingga Belanda, melakukan kampanye militer ke ujung Timur Jawa pada tahun 1767-1768," tulis Sri Margana dalam buku "Ujung Timur Jawa, 1763-1813 Perebutan Hegemoni Blambangan".

Surapati dan seluruh keturunannya menjadi momok yang dibenci Kompeni. Babad Tanah Jawi menyebut, Surapati yang berdarah Bali lahir tahun 1660. Ada fase dalam hidup Surapati menjadi budak (pembantu) seorang Belanda di Batavia.

Lantaran sejak ada Surapati sang majikan merasa kerap beruntung, kehadiran Surapati disukai. Surapati yang dianggap memiliki kesaktian mendapat panggilan Untung. 

Namun masa kondusif tersebut tidak berlangsung lama. Dari yang semula disayangi, status Surapati berubah menjadi tawanan. Dia dijebloskan penjara hanya gara-gara ketahuan menjalin hubungan intim dengan putri sang majikan.

Dengan membawa serta tahanan lain, Surapati berhasil menerobos tembok penjara. Sejak itu Belanda melihatnya sebagai laskar pengacau di wilayah Priangan, Jawa Barat. Ruys, seorang Kapten Kompeni dikirim untuk melakukan pendekatan. Kapten Ruys berhasil membujuk Surapati bergabung dengan Kompeni.

Namun tak lama berdinas, Surapati kembali membuat ulah. Perselisihannya dengan Pembantu Letnan (vaandrig) Williem Kuffler telah menewaskan 20 orang Belanda. Sejak itu dia kembali menjadi laskar pengacau yang terus menerus bermusuhan dengan Belanda. Karena terdesak, bersama pasukannya Surapati memutuskan bergeser ke arah timur.

Sejarawan Belanda, Hermanus Johannes de Graaf dalam buku "Terbunuhnya Kapten Tack, Kemelut di Kartasura Abad XVII" mengatakan: Surapati bukanlah satu-satunya komandan laskar petualang di daerah perbatasan. Tetapi dia dianggap jagonya yang paling unggul.

Sejak berselisih dengan Willem Kuffeler, serta dianggap bertanggung jawab atas kematian Kapten Francois Tack di Kartasura, Belanda terus menaruh dendam kesumat kepada Surapati. Dalam kemelut suksesi raja Jawa (1704), dendam itu makin menyala. Surapati berdiri di pihak Amangkurat III yang saat itu berperang melawan Pakubowono I yang dibekingi Belanda.

Tahun 1686, Surapati mendirikan kraton di Pasuruan, Jawa Timur. Kraton yang tidak tunduk pada kekuasaan siapapun. Termasuk kolonial Belanda. Sebelum menutup mata, Surapati melakukan pertempuran di Bangil (Sekarang masuk wilayah Kabupaten Pasuruan). Surapati meninggal tahun 1705, dengan luka serius akibat pertempuran pamungkasnya . Namun api pemberontakan tidak padam.

Estafet perlawanan dilanjutkan keturunan dan para pengikutnya. Seperti kakeknya, di depan Belanda Bupati Lumajang, Kartanagara yang merupakan cucu Surapati muncul sebagai pemberontak. Bersama saudaranya Bupati Malang, Malayakusuma, Kartanagara memilih bersekutu dengan Singasari, atau Prabujaka, anak Amangkurat IV (1719-1726) yang menolak pembagian kerajaan Jawa. Usulan membelah kerajaan yang pada tahun 1755-1757 berhasil dilaksanakan (Perjanjian Giyanti), datangnya dari Belanda.

Pangeran Singasari memilih keluar istana dan memberontak. Mangkubumi, dan Raden Mas Sahid (Mangkunegara), dua saudaranya yang didukung Belanda, dia lawan. Diajaknya serta putranya yang bernama Raden Mas ke Malang, untuk berkoalisi dengan Bupati Malang, Malayakusuma.

Kolaborasi antara Pangeran Mataram, Singasari dengan keturunan Surapati membuat Belanda ketar-ketir. Tidak hanya berhadapan dengan pasukan Pangeran Mataram, Singasari. Ekspedisi militer Belanda juga akan menghadapi kekuatan trah Surapati yang berkuasa di wilayah Lumajang, Malang, Antang (Ngantang) dan Porong.

"Kolaborasi antara Singasari , dan Malayakusuma di Malang, sebenarnya adalah kebangkitan kembali aliansi lama antara kedua keluarga yang telah dijalin sejak 60 tahun sebelumnya," kata Sri Margana dalam buku "Ujung Timur Jawa, 1763-1813 Perebutan Hegemoni Blambangan".

Editor : Nani Suherni

Halaman : 1 2 3