Ketua Yayasan Budi Sain Mangkleng, Khaerudin, mengklaim dugaan keracunan berkaitan dengan keterlambatan pemberian makanan MBG kepada siswa. Menurutnya, makanan yang seharusnya dikonsumsi sebelum pukul 09.00 WITA diberikan melewati waktu yang telah ditentukan.
Khaerudin menduga keterlambatan tersebut membuat makanan mengalami perubahan kondisi hingga tidak layak dikonsumsi.
"Yang sudah diberikan sudah ditentukan jamnya jam sembilan harus dimakan, namun ada sebagian sekolah yang terlambat memberikan sehingga terjadilah basi," ucap Ketua Yayasan Budi Sain Mangkling, Khaerudin.
Satgas Program MBG Lombok Tengah mengatakan, kejadian tersebut akan menjadi bahan evaluasi, khususnya terhadap dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Gunung Kedul di Desa Mekar Bersatu yang berada di bawah Yayasan Budi Sain Mangkleng.
Evaluasi dilakukan untuk mengetahui penyebab gangguan kesehatan yang dialami para siswa sekaligus memastikan pelaksanaan program MBG berjalan sesuai prosedur keamanan pangan.
"Kalau memang ini dirasa sudah cukup fatal, kemungkinan akan di- suspend," ujar Satgas MBG Lombok Tengah, Lalu Rinjani.
Sementara itu, berdasarkan hasil observasi medis tenaga kesehatan di sejumlah puskesmas, ratusan siswa yang sebelumnya mendapat penanganan telah diperbolehkan pulang. Kondisi mereka akan tetap dipantau setelah menjalani pemeriksaan medis.
Editor : Kurnia Illahi
Artikel Terkait