Warga Belu mengarak jenazah pemuda yang tewas diduga ditembak oknum polisi, Selasa (27/9/2022). (Foto: iNews TV/Stefanus Dile Payong)
Stefanus Dile Payong

BELU, iNews.id – Ratusan warga Desa Manleten, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, NTT mengarak jenazah pemuda berusia 18 tahun yang tewas diduga ditembak oknum polisi, Selasa (27/9/2022).

Warga mengarak jenazah korban keliling kota mulai dari Kantor Polres hingga DPRD Belu.

Aksi warga tersebut sebagai bentuk protes dengan perbuatan oknum polisi yang diduga menembak mati korban tanpa alasan.

Sambil berjalan kaki, warga mengarak jenazah korban yang sesekali diselingi dengan teriakan dan kata-kata bernada kecaman terhadap oknum polisi.

Sasaran pertama yang dituju warga dan keluarga korban yakni Kantor Polres Belu. Namun ketika tiba di pintu masuk, warga sudah diadang puluhan anggota yang saat itu sedang berjaga-jaga dengan menutup pintu gerbang.

Aksi saling dorong pun terjadi antara keluarga korban dan anggota polisi. Warga akhirnya berhasil masuk ke halaman Mapolres Belu. Mereka menuntut agar pelaku dapat dihadirkan.

Namun, permintaan itu ditolak. Warga akhirnya kembali mengarak jenazah korban ke kantor DPRD Belu.

Salah seorang keluarga korban, Sipri Manek mengatakan, saat ini keluarga hanya berharap agar oknum polisi diproses hukum.

“Kami minta pelakunya diproses hukum karena negara kita negara hukum. Tidak ada warga negara indonesia yang kebal hukum,” katanya.

Kapolda NTT, Irjen Pol Setyo Budiyanto, mengatakan, polisi di Polres Belu menembak mati seorang pelaku pengeroyokan di daerah itu yang masuk ke dalam DPO.

“Sesuai laporan singkat dari kepala Polres, warga yang tertembak itu orang yang masuk dalam DPO perkara pengeroyokan dan tertembak saat akan dilakukan penangkapan," katanya..

Dia mengatakan, polisi setempat saat ini sedang mendalami informasi lengkapnya dan kronologi kasus tertembaknya pria berinisial GYL itu. Ia juga mengatakan telah memerintahkan kepala Bidang Propam Polda NTT untuk berangkat ke Kabupaten Belu mencari informasi pasti soal kasus itu.


Editor : Kastolani Marzuki

BERITA TERKAIT